MAKASSAR KOTA LAYAK PEMUDA

Opini Tirbun Timur

“Wah.. gimana Kota Makassar mas?.. Demonya serem-serem ya”

Sepenggal kalimat diatas bukan cuman sekali atau dua kali saya dengar ketika memperkenalkan diri pada ajang yang mempertemukan teman-teman pemuda di kota lain di Indonesia. Dan secara spontan jawaban yang sering  menjadi pembelaan adalah “tidak juga seheboh seperti yang ada di TV bung. Blaa.. blaa”.

Bangunan image dan stigma negatif Pemuda Makassar yang itu tidak terlepas pada problematika kepemudaan di Kota Daeng ini, seperti yang sering kita baca dikoran dan tonton ditelevisi. Walaupun ketika ditelisik lebih jauh dan mendalam presentase tindak anarkis serta kejahatan jalanan yang menjadi konsumsi media tidak lebih tinggi dibanding prestasi dan kegiatan positif serta dinamika kepemudaan di Makassar.

Karakter Pemuda Makassar mempunyai  daya kritis yang kuat dan pemberani, memang punya ciri dan cara sendiri dalam menyampaikan pendapatnya  yang terkadang terkesan meledak-ledak serta dibarengi dengan bahasa tubuh yang tegas. Dan yang pasti pantang menyerah sebelum tujuan dan aspirasinya didengarkan menjadikan Pemuda Makassar berbeda dalam setiap gerakan yang dilakoni. Namun karakter tersebut tidak hanya berlaku pada parlemen jalanan, juga terimplementasi pada gerak dan tingkah laku Pemuda  di Makassar. Baik dalam berkompetisi, berkarya bahkan terbawa pada interaksi sosial.

Pada konteks kekinian dimana era perkembangan zaman yang begitu cepat yang dibarengi dengan terjadinya perubahan sosial kemasyarakatan, Pemuda kemudian dituntut berpacu pada tatanan moderisasi dengan kecanggihan teknologi sebagai salah satu factor pendukung berlangsungnya dinamika kepemudaan, baik secara kultural maupun structural pada organisasi-organisasi kepemudaan. Kondisi saat ini  juga sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi Pemuda, kemudahan mengakses informasi, jejaring serta interaksi social yang tak lagi dibatasi ruang dan waktu serta nyaris tanpa sekat berdampak negatif.

Perubahan yang cukup nyata terlihat yakni pemuda hampir kehilangan identitas lokal bugis Makassar yang terkooptasi dengan budaya pop dengan segala macam atribut yang melekat seperti penyalahgunaan narkoba, miras, pergaulan bebas hingga tindak kekerasan dan radikalisme. Secara psikologi generasi masa kini menjadi apatis, autis, serta cenderung membatasi interaksi social sehingga cukup berdampak pada kualitas dan karakter kepemimpinan pemuda pada organisasi-organisasi yang menjadi kawah Chandra dimuka generasi kepemimpinan bangsa kedepan.

Pergeseran orientasi Pemuda dalam menjalankan fungsi sebagai agen perubahan, dari metode berhimpun pada organisasi atau kelompok yang berlandaskan idealisme dan ideology kemudian berubah dengan berorientasi pada keminatan serta keahlian sehingga saat ini komunitas-komunitas pemuda tumbuh subur baik komunitas profesi, hobby, minat  dan bakat. Hingga saat ini trend pemuda mengarah pada potensi kreatifitas yang bernilai ekonomis, terlebih lagi pada saat dimulainya masyarakat ekonomi asean yang memungkin hubungan interaksi serta persaingan terbuka antar pemuda se-Asean.

Gambaran tersebut  diatas, adalah  realitas yang tak bisa ditawar lagi kehidupan kepemudaan menjadi tanggungjawab bersama baik pemuda sebagai persenoal maupun dalam konteks kelembagaan, masyarakat dan pemerintah. Sebab masa depan bangsa esok ditentukan bagaimana mengelolah potensi kepemudaan hari ini. Respon cukup positif dari Kementerian Pemuda dan Olahraga dengan mengeluarkan kebijakan pencanangan program Kota Layak Pemuda 2017 dengan menjadi 3 Kota di Indonesia sebagai percontohan yakni Kota Bandung, Kota malang dan Kota Palu.

Kota Layak Pemuda 2017 sebagai salah satu pengejawantahan dalam mewujudkan tujuan dari Undang-Undang No. 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan, dimana Pemuda tidak hanya diharapakn mampu menjadi motor penggerak pembangunan namun juga sebagai lokomotif pertumbahan ekonomi di Indonesia. Program yang dicanangkan pada November 2016, memilih Kota Bandung sebab Ibukota Jawa Barat tersebut dikenal sebagai kota yang dikenal dengan banyak gagasan dan ide-ide kreatif pemuda yang bermanfaat bahkan industry kreatif menjadi penggerakan utama pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Dan salah satu kiat hingga dinamika kepemudaan di Bandung berjalan dinamis, yakni pengalokasian anggaran belanja daerah yang menjadi tiga persen dari total APBD Pemkot Bandung.  Alokasi tersebut terdistribusi pada program dan kegiatan yang mendorong pada pemberdayaan berbasis potensi kepemudaan.

Lalu bagaimana dengan Kota Makassar?, Kota yang kaya akan potensi dan energi positif kepemudaan ini. Jika melihat perkembangan potensi, prestasi dan daya kreatifitas kepemudaan akhir-akhir ini, generasi Pemuda Makassar cukup banyak  mewarnai dikancah nasional dari segala bidang. Tak sedikit anak muda berdarah bugis Makassar yang mengharum nama Indonesia pada ajang-ajang Internasional, dan yakinlah bahwa setiap momentum perhelatan apapun Pemuda Makassar senantias mendapatkan peran penting. Di Makassar sendiri kehidupan kelembagaan yang dinamis serta berkembangannya komunitas yang menghimpun anak muda tidak penah sepi tentu dengan mengandalkan potensi dan kemampuan yang terbatas.

Segala aktifitas kepemudaan di Kota Makassar yang berjalan hari ini, belum bias disejajarkan dengan kehidupan kepemudaan di Kota Bandung, aktifitas Pemuda di Makassar belum dilindungi payung hukum atau regulasi yang khusus tentang kepemudaan seperti Perda Kepemudaan segabai salah satu indikator dan syarat menjadi Kota Layak Pemuda oleh Kemenpora. Selain bandung kini suda ada beberapa Kota yang sudah menerbitkan Perda Kepemudaan seperti Kota Palu, Kota Malang, Kota Banten, Provinsi DKI Jakarta, Kota Tangerang,  sedangkan beberapa daerah yang sementara menggodok yaitu Kota Bogor, Kota Semarang, Kota Serang dll.

Selain syarat Perda Kepemudaan, juga ketersediaan infrastruktur yakni ruang dan tempat ekspresi dan kreasi pemuda, kelembagaan yakni keaktifan organisasi kepemudaan dan komunitas-komunitas pemuda serta kemandirian pemuda sebagai pelopor UMKM dan pembangunan.

Sebagai salah satu elemen Pemuda di Kota Makassar, berharap pihak Pemkot Makassar bersama DPRD Kota Makassar bisa mendorong lahirnya Perda Kepemudaan Kota Makassar, dengan regulasi tersebut semoga harapan kedepan tidak lagi ada stigma negatif dan tak lagi terucap penggalan kalimat diatas.

Menuju Makassar Kota Dunia yang Layak untuk Pemuda, Karena Makassar Bisa Tonji…

Telah diterbitkan pada

Opini TRIBUN TIMUR – 17 Juli 2017

 

 

Iklan

Tarian Jemari; Empat Empat

Tarian Jemari; Empat Empat

 

 

Lebaran kini telah lewat

Masih kuingat indahnya berzakat

Masih kurasa lezatnya ketupat

Ramadhan berlalu begitu cepat

Berharap cukup jadi modal esok di akhirat

Kini tiba saat kembali ke habibat

Dengan bekal pesan dan wasiat

Menuntun ummat agar tak salah alamat

Mengarahkan tujuan agar tak terhambat

Agar hari esok indah terpahat

Memandang diri ibarat menatap buah alpukat

Terasa manis walau kadang terlihat cacat

Elok dipandang walau kadang terasa sepat

Jangan menilai hanya dengan melihat

Sebab banyak hal yang terikat

Karena manusia terpendam bakat

Karena manusia tersimpan minat

Agar tak menjadi sosok yang jahat

Agar tak menjadi pribadi yang khianat

Kan tiba saat hukum sebab akibat

Jikalau kita punya hajat

Doa harus dikandung hayat

Segala hasrat dimulai dengan niat

Upaya dan usaha dijadikan rapat

Agar terkabul angan dengan cepat

Tiba saat hari yang berlipat

Deng Ical kini berusia empat empat

 

Semoga esok mendapat amanat

Semoga tetap sehat walafiat

Semoga menjadi kuat dan akurat

Semoga selalu taat berberkat

Semoga penuh hidayat dan rahmat

Semoga kemuliaan selalu tersemat

YAUMUL MILAD DENG ICAL

Makassar, 30 Juli 2017

ias145

Menadah Tetesan Konflik KNPI

Ironi dualisme sepertinya menjadi trend yang sedang menjangkiti sendi-sendi kehidupan kelembagaan di Indonesia. Ramai dimedia massa terkait berita tentang dualisme, baik dualisme kepentingan, dualisme kepemimpinan, dualisme aturan/regulasi, dualisme organisasi/kelompok/partai dll. Dualisme-dualisme demikian cenderung terjadi akibat adanya konfik/pertentangan terlebih dahulu.

Agar tak terjadi dualisme pemahaman atau pemikiran tentang tulisan ini, ada baiknya dimulai menyatukan persepsi tentang apa dan bagaimana itu dualisme. Pendefenisian dualisme akan merujuk pada objek, konsep maupun konteks dualisme itu sendiri. Yang pasti secara sederhana dualisme adalah adanya hubungan dua substansi ataupun prinsip yang berbeda, bertentangan ataupun berpasangan, seperti baik dan buruk, laki-laki dan perempuan, hitam dan putih, atas dan bawah, panas dan dingin dan lain sebagainya.

Potensi dualisme Dalam konteks organisasi atau lembaga cukup banyak, namun yang sering terjadi adalah dualisme kelembagaan dan dualisme kepemimpinan. Adanya dua wadah atau lembaga yang memiliki identitas dan visi yang sama kemudian saling klaim berhak atas otoritas kelembagaan berdasarkan pada tafsiran berbeda terhadap regulasi yang sama, sedangkan dualisme kepemimpinan biasanya merujuk pada konflik struktural, dimana ada dua top leader atau pemangku kebijakan yang saling berburu pengaruh dalam menjalankan roda kelembagaan.

Siapa yang berhak menjadi nahkoda dan memegang tongkat komando kepemimpinan dalam satu organisasi/lembaga yang sama, dalam bahasa populernya sering diistilahkan “dua matahari”. Lain lagi jika berbicara dualisme jabatan, dimana satu orang menduduki dua jabatan pada waktu bersamaan baik pada suatu organisasi yang sama ataupun berbeda. Yang semuanya akan bermuara pada pengakuan baik secara de facto maupun de jure.

Sejarah mencatat, konflik seperti ini dimulai sejak manusia mengenal dan mengimplementasikan teori berkelompok. Bahkan dalam teori ilmu sosial dinyatakan bahwa konflik adalah sesuatu keniscayaan dalam interaksi sosial. Sedangkan di Indonesia sendiri pernah mengalami dualisme kepemimpinan nasional antara Soeharto dan Soekarno pada kurun waktu tahun 1966-1967 yang dikenal dengan peristiwa Supersemar. Selanjutnya hingga saat ini rentetan peristiwa-peristiwa dualisme banyak terjadi pada semua tingkatan.

Pemuda Mendua

Empat puluh tiga tahun bukalah usia muda bagi wadah berhimpunnya organisasi kepemudaan di Indonesia, telah berlimpah kader-kader pemimpin yang telah, sedang maupun yang siap memegang tongkat kepemipinan bangsa baik dikancah nasional maupun didaerah. Sebagai laboratorium kader kepemimpinan memang KNPI menjadi tempat berkumpulnya pemuda-pemuda yang telah ditempa dan dibina di organisasinya masing-masing, dan kemudian diutus untuk berdinamika di KNPI. Dengan berbagai macam latar belakang baik agama, warna, ideologi dan pemahaman. Sehingga dalam memang sangat wajar jika perjalanan KNPI cukup dinamis dengan berbagai macam kepentingan.

Setidaknya KNPI telah melalui berbagai macam konflik internal organisasi, terlebih pasca reformasi KNPI kehilangan kepercayaan publik hingga hampir berujung pada pembubaran KNPI. Namun pada Kongres KNPI di Bogor 1999 pasca Reformasi suatu terobosan kebijakan organisasi yang dijadikan pegangan dalam melewati krisis kelembagaan KNPI, gagasan tentang visi KNPI kedepan dituangkan dalam Tekad Pemuda Indonesia yang berpegang pada semboyan “Kita Semua Satu, Satu Dalam Cita, Satu Dalam Rasa, Indonesia”. Atas tekad ini pula KNPI telah menjadi salah satu yang tidak tergerus oleh laju gerakan reformasi yang lahir akibat krisis multi dimensi di atas dan secara fundamental reformasi telah merombak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Momentun tersebut menandai dimulainya babak baru dinamika kepemudaan di Indonesia, KNPI tak lagi seperti sebelum bergulirnya reformasi, KNPI kehilangan segala fasilitas dan keistimewaannya tetinggal bersama riuhnya aksi reformasi. Kini dituntut lebih independen, mandiri, kritis, cerdas serta kreatif dalam mengubah jati diri kepemudaan menjadi lebih progresif dalam mengelolah internal organisasi serta konteks eksternal yakni menjaga stabilitas dinamika kepemudaan.

Problematika kepemudaan semakin kompleks, sehingga terjadilah benih-benih konflik internal seperti yang terjadi pada kepengurusan DPP KNPI 2005-2008, perebutan pengaruh elit KNPI antara kelompok Ketua DPP Hasanuddn Yusuf dengan Sekjendnya Munawar Fuad bisa jadi disebut dualisme kepemimpinan atau adanya dua matahari dalam satu organisasi. Akibat ketegangan kedua poros besar dalam internal berujung pada penonaktifan Hasanuddin Yusuf sebagai Ketua Umum dan diganti oleh Hans Havloni Silalahi sebagai Pelaksana tugas pada Musyawarah Pimpinan Paripurna di Pekanbaru Riau pada Juli 2008. Inilah konflik internal KNPI yang menjadi cikal bakal kisruh berkepanjangan ditubuh wadah berhimpunnya Organisasi kepemudaan di Indonesia.

Pasca kisruh di Pekanbaru konflik KNPI semakin tak terbendung kedua poros membawa keputusan yang berbeda poros Hasanuddin Yusuf tetap mengakui Hasanuddin sebagai Ketua Umum dan menggelar Kongres XII Pemuda/KNPI di Ancol Jakarta pada Oktober 2008 selanjutnya disebut KNPI versi Ancol, sedangkan poros Munawar Fuad mengakui Hans Havloni Silalahi sebagai Ketua Umum DPP KNPI serta menggelar Kongres XII Pemuda/KNPI di Denpasar Bali juga pada Oktober 2008 sehingga populer dengan KNPI versi Bali.

Kongres versi Ancol menghasilkan keputusan dengan mengangkat Ketua Umum Ahmad Doli Kurnia dan Sekretaris Jenderal Pahlevi Pangerang, lain lagi keputusan Kongres KNPI versi Bali dimana Azis Syamsudin sebagai Ketua Umum dan Sayed Muhammad Mualiady sebagai Sekretaris Jenderal. Inilah catatan paling kelam dalam sejarah pemuda pergerakan atau kelembagaan pemuda di Indonesia, yang kemudian juga berefek kepada terpecahnya solidaritas Organisasi kepemudaan yang berhimpun di KNPI serta KNPI secara struktural di Provinsi, Kab/Kota hingga Kecamatan. Karena perbedaan cara pandang dalam mekanisme organisasi KNPI, pemuda Indonesia era reformasi begitu mudah terbelah. Kondisi yang sangat jauh berlainan dari catatan emas soliditas pemuda Indonesia yang begitu teruji sejak era pergerakan kemerdekaan hingga proklamasi kemerdekaan republik.

Tensi konflik KNPI sedikit mereda saat terjadi kesepakatan rekonsilisasi AntaraAhmad Doli Kurnia dan Azis Syamsudin untuk mengakhiri kemelut kepemudaan di Indonesia. Langkah rill yang ditempuh adalah dengan mengadakan satu Kongres Pemuda/KNPI XIII bersama, dengan membentuk kepanitiaan bersama kedua versi KNPI dengan tajuk “Satu Knpi, Satu Pemuda, Satu Indonesia”. Kongres yang digelar pada Oktober 2011 yang diharapkan menjadi kongres yang bisa fair dan mengedepankan spotifitas agar tak lagi ada poteni dualisme kepemimpinan KNPI.

Walaupun dalam realitasnya hasil Kongres XIII tak seindah apa yang diharapkan. Hasil keputusan Kongres 2011 tersebut menetapkan Taufan Eko Nugroho Ratorasiko sebagai Ketua Umum DPP KNPI Periode 2011-2014. Kisruh KNPI tidaklah sampai disitu pada tahun Maret 2012 digelar Kongres KNPI tandingan dengan menetapakan Akbar Zulfakar sebagai Ketua terpilih DPP KNPI, meskipun Kementerian Pemuda dan Olahraga hanya mengakui Taufan Eko Nugroho Ratorasiko sebagai Ketua Umum KNPI yang sah.

Kemudian periode berikutnya, Kongres Pemuda/KNPI XIV di Papua pada Februari-Maret 2015 menetapkan Muhammad Rifai Darus sebagai Ketua Umum DPP KNPI Periode 2015-2018 dan kemudian dikukuhkan pada April 2015 di Halaman Gedung Kemenpora yang juga dihadiri oleh Menpora Imam Nahrowi dan Akbar Tanjung. Tak lama selang setelah pengukuhan Rifai Darus sebagai Ketua Umum KNPI begulirlah ppKongres Luar Biasa KNPI pada Juni 2015 diHotel Kartika Chandra Jakarta, dan juga menetapkan Ketua Umum DPP Gema MKGR Fahd A Rafiq terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP KNPI periode 2015-2018. Sekali lagi perhimpunan kepemudaan diuji oleh kisruh konflik kepemimpinan pemuda di Indonesia.

Namun dari semua konflik serta pertentangan antar kelompok kepemudaan yang diakibatkan oleh tafsiran akan regulasi organisasi maupun yang bermuatan kepentingan politik menandakan sebuah gairah berdinamika serta menunjukkan eksistensi keberhimpunan OKP tetap berjalan dengan perubahan-perubahan paradigma, visi serta orientasi kelembagaan seiring dengan perubahan sosial kemasyarakat dan tuntutan zaman hingga hari ini.

Kepemudaan di Sulsel

KNPI Sulsel sebagai wadah berhimpun organisasi-organisasi kepemudaan didesain sebagai perkumpulan bersama yang diharapkan dapat mengagregasi kepentingan kepemudaan di Sulseluntuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah Sulawesi Selatan dasn terkhusus di Kabupaten Kota di wilayah Sulsel. Hiruk pikut dinamika organisasi KNPI yang senantiasa diwarnai dengan konflik pada kepengurusan di pusat, kemudian membuat KNPI Sulsel selalu mengedepankan solidaritas serta keharmonisan ragam OKP dan DPD Kab./Kota hingga DPK Kecamatan. Hal tersebut terbukti hingga hari ini KNPI Sulsel tetap berada pada kesatuan visi melihat konstalasi ke-KNPI-an di Indonesia.

Perbedaan pendapat serta keberpihakan kepentingan yang hadir pada ranah kepemudaan di Sulsel, bisa jadi senantiasa diretas dengan prinsip dan falsafah hidup orang Bugis Makassar yakni Siri na pacce, Sipakainga, Sipakatau ,dan sipakalebbi. Hal tersebutlah menjadikan kepemudaan di Sulsel teguh, kokoh dan tetap bersinergi dalam bingkai keberhimpunan.

Beberapa waktu terakhir ini wadah keberagaman yang juga rumah berhimpunnya OKP dan potensi kepemudaan di Sulsel juga di uji dengan menetesnya kisruh konflik kepemimpinan KNPI pusat, yang bisa jadi juga terjadi di daerah-daerah lain. Hal yang sangat mengusik akan dinamisasi keber-KNPI-an di Sulsel mengingat tatanan kepemudaan di 24 Kabupaten boleh dikata sangatlah harmonis dengan mengedepankan silaturahmi serta tetap mengacu pada aturan main Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga KNPI.

Beberapa hal yang ingin diungkapkan dalam torehan ini, bahwa terkait problem tersebut. Tanpa bermaksud memberi justifikasi ataupun penilaian karena memang penulis tim penilai, tapi hanya sekedar memberi argumentasi berdasarkan pengetahuan atas nalar serta logika yang didasari oleh informasi dan referensi tentang KNPI.

Pengantar diatas yang memcoba menggambar secara umum peristiwa demi peristiwa tentang konflik dualisme KNPI sehingga penulis dan pembaca tidak terjangkiti dualisme perspektif melihat masalah ini. Surat Keputusan tentang penunjukkan karateker Ketua KNPI Prov. Sulsel terdapat beberapa kegangjilan atas pengamatan serta berdasar atas regulasi. Sebelumnya kita merujuk keabsahan KNPI versi Muh. Rifai Darus dan KNPI versi Fahd, secara defacto dan dejure keduanya telah menujukkan klaim berdasarkan versinya masing-masing. Bahkan Keduanya menunjukkan legitas dari pemerintah lewat Kemenkumham sebagai bentuk pengakuan pemerintah. Beberapa hal ini bisa jadi bahan sharing untuk diperhatikan :

  • Terbitnya Surat Keputusan Kemenkumham Nomor AHU-00014003.AH.01.07.TAHUN 2015 tentang pengesahan badan hukum Perkumpulan Komite Nasional Pemuda Indonesia disingkat KNPI dengan Susunan Organ Perkumpulan dengan Ketua Umum Muhammad Rifai Darus per tanggal 02 Juni 2015. Sedangkan SK. Kemenkumham Nomor AHU-0010877.AH.01.TAHUN 2015 pengesahan badan hukum Perkumpulan KNPI dengan susunan organ perkumpulan dengan Ketua Umum Fahd El Fouz A. Rafiq per tanggal 23 Oktober 2015. Dengan demikian menurut hemat saya bahwa dari identitas keduanya ada perbedaan penamaan. Untuk memastikan mana yang sesuai dengan akar sejarah lahirnya maka kita harus membuka lembaran naskah “Deklarasi Pemuda Pemuda” pada tahun 1973. Berikut kutipan alinea terakhir: “Maka dengan Tuhan yang maha Esa, kami menyatakan dengan resmi berdirinya Komite Nasional Pemuda Indonesia.” Jakarta 23 Juli 1973 atas nama Pemuda Indonesia.
  • Berdasarkan Naskah Deklarasi Pemuda Indonesia 1973 serta menuruk pada Anggaran Dasar Anggaran Rumah tangga KNPI pada bab 1. nama, waktu dan kedudukan ayat 1. Organisasi ini bernama Komite Nasional Pemuda Indonesia disingkat KNPI dan tidak dikenal organisasi KNPI yang ada hanya KNPI hanyalah sibgkatan. Sehingga yang berkesesuain dengan SK. Kemenkumham adalah SK. dengan nomor AHU-00014003.AH.01.07.TAHUN 2015. Silahkan menilai sendiri.
  • Ditinjau dari peraturan organisasi pedoman adminstrasi kesekretariatan Surat Keputusan DPP KNPI tentang KNPI Sulsel tentang Karateker DPD KNPI Prov. Sulsel No. KEP.??/DPP KNPI/XI/2016. Yang ditandatngani oleh Ketua Umum KNPI Fahd dan Sekjend Fadhly Alimin yang menunjuk Nursyam Halid sebagai ketua. Sedangkan sesuai dengan pedoman organisasi KNPI penomoran surat keputusan KNPI yang dipakai sejak dulu, yang terdiri dari lima (5) bagian yaitu nomor urut/jenis surat (KPTS)/pembuat surat dalam hal ini Sekjed/bulan romawi/tahun masehi. Contoh nomor surat keputusan KNPI : 001/KPTS/Sek/XI/2016.
  • Seyogyanya juga ada tembusan surat keputusan paling tidak kepada Gubernur Sulsel sebagai Pembina Kepemudanaan di Sulawesi Selatan.
  • Dan yang paling fatal dari segi persuratan adalah adanya kesalahan penulisan Provinsi Lampung dalam naskah Surat keputusan, yang pada bagian pengantar disebutkan untuk Provinsi Sulawesi Selatan. Dan jika berbicara tentang tertib administrasi pada organisasi apapun menjadi sangat urgent walaupun kelihatannya hal kecil.
  • Dan jika memang KNPI Pusat versi Fahd menganggap sebagai wadah keterwakilan OKP berhimpun dan menggangap KNPI yang sah dan sesuai dengan marwah dan filosofi terbentuknya KNPI, seyogyanya tidak perlu mengeluarian karateker tinggal mengeluarkan SK terbaru kepada Kepengurusan Bung Mizar Cs. Mengingat KNPI Sulsel dibawah kepemimpinan Bung Mizar sangatlah solid dan harmonis bersama OKP berhimpun dan 24 DPD Kab./Kota di Sulsel. Jikalau memang punya visi kepemudaan kecuali ada maksud yang lain

Dari beberapa hal tersebut diatas bisa dijadikan bahan renungan buat pemuda di Sulsel. Tapi simpulan awal penulis bahwa memang tidak ada dualisme Komite Nasional Pemuda Indonesia baik di pusat maupun di Sulsel seperti yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan dikalangan kepemudaan. Kebetulan saja ada kemiripan nama dan identitasnya, dan apresiasi buat siapapun yang ingin berbuat untuk kepentingan kepemudaan di Sulsel dengan mengedepankan konsep falsafah hidup orang Bugis Makassar.

Bila suatu saat ada KNPI berevolusi menjadi organisasi tanpa memperdulikan keberhimpunan OKP maka itu adalah kekeliruan, tak ayal KNPI tersebut bukan wadah berhimpun namun menjelma organisasi kepemudaan kesekian. Sebab terminologi keberhimpunan sangatlah jelas, ada yang berhimpun kemudian bersepakat dalam sebuah asosiasi yang sama dalam prespektif ide, gagasan, program dan struktur tanpa mengkebiri atau meleburkan marwah organisasi kepemudaan tersebut. Apakah itu yang terjadi sekarang atau tidak? Silahkan tafsirkan sendiri.

Keharmonisan serta suasana dinamis kepemudaan yang senantiasa bergandengan tangan demi tercapainya tujuan organisasi yaitu terwujudnya persatuan dan kesatuan pemuda serta keutuhan NKRI, terbedayanya potensi pemuda dalam segala aspek kehidupan, serta peran aktif pemuda dalam pembangunan nasional hingga daerah berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.

Yakin dan percaya jika ada yang mengganggu hal tersebut, Pemuda Sulsel akan saling menggenggam tangan menjadi benteng yang kokoh untuk melawan apapun yang menjadi penghalang.

Toh generasi muda sekarang dengan perubahan sosial yang begitu ekstrim, dimana sikap apatis dan cuek sedang menjangkiti. Pemuda hari ini lebih tertarik begaimana potensi dirinya bisa bernilai ekonomis ketimbang berbicara idealisme apalagi bicara ideologi kebangsaan. Hari ini bolehlah kita berdebat serta berebut pengaruh di lembaga/organisasi kekaderan. tapi apakah setelah kita masih ada generasi yang mau sibuk untuk itu. Kita tidak berbenah ataupun menjawab tantangan zaman dan memunuhi keinginana generasi hari ini, maka bisa dipastikan inilah akhir dari masa keberhimpunan pemuda. Berbuatpun belum tentu bisa mencapai hal tersebur, apalagi kalau hanya sibuk dengan konflik berebut pengaruh dan kekuasaan di ranah kepemudaan.

Kita punya kepentingan masing-masing diluar sana, namun kepentingan tersebut melebur menjadi satu kepentingan kepemudaan jika memasuki ranah KNPI. Kita punya warna masing-masing diluar sana, namun warna tersebut melebur menjadi satu warna kepemudaan jika memasuki ranah KNPI.

Maka berhentilah meneteskan perpecahan pada Pemuda Sulsel

Karena KNPI itu hanya Satu

Satu tujuan, satu warna, satu Indonesia.

PEMUDA PENAKLUK UJUNG PANDANG

Nama lengkapnya Arman, SH., namun dalah pergaulan dan interaksi sosialnya di publik, pemuda kerap disapa Ammang nama khas suku bugis. Arman kecil memang orang bugis¸ tepat tanggal 5 Agustus 1980 silam pertama kali ia menghirup udara kehiduoan pada suatu desa di Kabupaten Soppeng. Masa kecilnya dia habiskan dengan kehidupan desadengan bersekolah di SD Negeri 197 Sadae Soppeng, ini merupakan fase terindah serta terlupakan baginya, Tak ada video game¸tidak ada game online di smartphone dan belum munculnya cerita cinta murid SD di Sinetron, semua begitu dekat alam, rutinitas selepas menimbah ilmu dia lakoni dengan melempar mangga, melontar kelereng, menerbangkan layangan, memutar roda pedati, memukul kasti, berenang disungai dan menikmati tidur siang diatas dahan pohon yang rindang.
Hari berganti hari tepat pada usainya 16 tahun, remaja yang aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi Ikatan Remaja Muhammadiyah menyelesaikan Sekolah Menengah Pertamanya pada Sekolah yang juga milik Muhammadiyah di Leworeng tahun 1996. Kisah hidupnya kemudian bercerita lain, sebab setelah merasakan lembut-nya lumpur sawah bak hamparan coklat yang lezat, glamor-nya pesta panen padi yang menguning bak lautan emas, dan harmoni-nya nyanyian burung, desiran angin yang menyapa dedaunan, serta alunan melodi lonceng sapi yang berbaris rapi menuju hamparan rumpu hijau, Arman harus rela meninggalkan jejak kehidupan desanya untuk bertahan hidup dengan kehidupan kota yang serba tidak pasti, demi menggapai cita-cita impiannya.
Dengan berkebal ilmu, pesan dan amanah Ambo-nya serta memegang teguh falsafah hidup orang bugis, dengan modal tersebutlah dia memulai kisah dan petualang hidupnya menaklutkan Kota yang bergelar Ujung Pandang pada saat itu. Remaja yang sedang memasuki masa pubernya melewati hari-harinya di Kota dengan berjibaku dengan buku ilmu dasar arsitek, bercanda dengan teman dan bercumbu menikmati getaran kisah kasih cinta monyet di STM Negeri 1 Ujung pandang hingga tahun 1999. Bersama lembaran ijazah STM-nya dan serta rumus rancang struktur bangunan, sang arsitek amatiran ini dipercaya menjadi pengawas pekerjaan suatu bangunan. Kepiawaian dari seorang lulusan STM ditunjukkanya dengan mengamati dan mengawasi jengkal demi jengkal sudut bangunan, walaupun kemudian hari dia mendapati dirinya dalam tumpukan buku yang berisi pasal dan ayat-ayat.
Membanting setir jauh dari disiplin ilmu teknik, telah merubah arah cita dan masa depannya. Memasuki era transisi kepemimpinan nasional di Indonesia yakni masa pasca reformasi, Remaja Soppeng ini, disemati gelar Maba Hukum oleh Univeritas Muslim Indonesia pada tahun 2000 dengan menguti jejak Kakak Kandung Supriansyah yang lebih dulu mendapat gelar yang sama pada kampus yang sama pula. Bacaan dengan literatur hukum dan suguhan tontonan tentang dinamika politik kebangsaan yang serba tidak pasti membuat daya kritisnya mulai terpupuk, kajian serta analisis wacana kritis mengantarkannya berdiri tegak dijalanan sebagai orator ulung, demonstras idealis, negosiator handal hingga Korlap pemberani, tegas dan cerdas. Karakternya tertempa oleh bara api semangat dalam melakoni proses kaderisasi serta dinamika organisasi di HMI, Senat Fakultas Hukum, Lembaga Hukum hingga memimpin organisasi kemahasiswaan tingkat pusat yaitu ISMAHI.
Sosoknya sebagai Pemuda idealis yang berkarakter menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh penggerakan mahasiswa pada masanya, sehingga setiap momentum kompetisi dihelat membuat dirinya disegani kawan, ditakuti lawan. Butuh waktu 8 tahun untuk melepas tanda kehormatan sebagai seorang mahasiswa hukum berganti dengan gelar Sarjana Hukum pada tahun 2008, yang membuat Ambo’ dan Indo’nya bangga atas capaian seorang anak yang lahir didesa namun ditakdirkan menggenggam harapannya di Kota Anging Mammiri. Dengan langkah pasti, Sang Demonstran bergegas menjauh gerbang kampus kebanggaannya untuk meneruskan petualangan dan penaklukannya pada Kota yang konon sangatlah kejam seperti ungkanapan “sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibu kota.

DEKLARASI SOLO

Pembentukan Jejaring Kota Kreatif Bagi Kesejahteraan Indonesia Yang Inklusif dan Lestari
Sabtu, 24 Oktober 2015 di Gedung Bank Indonesia, Solo

Pada hari ini, Jum’at-Sabtu 23-24 Oktober 2015 telah terselenggara pertemuan Jejaring Kabupaten-kota Kreatif Indonesia (ICCN, Indonesian Creative Cities Network) di Gedung Bank Indonesia, Jl. Jenderal Sudirman No.15, Surakarta; yang diikuti oleh delegasi pemangku kepentingan dari 52 Kabupaten/Kota se-Indonesia. Pertemuan ini melibatkan perwakilan dari Pemerintah Daerah, Komunitas, Praktisi, Akademisi, perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat, bersama-sama dengan perwakilan Pemerintah Pusat yang terdiri dari Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Pariwisata, dan Badan Ekonomi Kreatif yang memutuskan: Dasar, Arah, Program, dan Kelembagaan yang akan mendasari langkah bersama sampai dengan tahun 2019.

Tujuan dari penyelenggaraan rangkaian kegiatan ini adalah untuk mendorong sinergi yang membuka ruang kolaborasi di antara kota dan kabupaten di Indonesia, dalam upaya pengembangan serta pemanfaatan potensi kreativitas yang ada di daerah masing-masing. Selain itu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk berbagi pengalaman dan inspirasi dalam upaya membangun potensi ekonomi kreatif yang ada dari masing-masing kota serta kabupaten sebagai fondasi bagi tata kelola potensi daerah bagi meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang inklusif dan lestari.

Kebijakan

  1. Jejaring Kabupaten-kota Kreatif Indonesia  (ICCN, Indonesia  Creative Cities Network) adalah, perkumpulan berbadan hokum dari pemangku kepentingan di masing masing kabupaten-kota yang menyatakan diri untuk bergabung dan berkolaborasi melalui jejaring kabupaten-kota kreatif secara bersama-sama untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatif di tingkat nasional.
  2. Jejaring Kabupaten-kota Kreatif Indonesia memperhatikan potensi Indonesia dalam pengembangan Kota kreatif di tingkat  Asia Tenggara sehingga secara bersama-sama mampu berkiprah di tingkat global.
  3. Untuk mendorong terjadinya lompatan kesejahteraan masyarakat yang inklusif dan keberlanjutan dalam konteks pembangunan kabupaten-kota melalui beragam gerakan kreatif di masing-masing daerah, model yang secara bertahap dikembangkan adalah melalui strategi “memakan bubur dari pinggir”.
  4. Penguatan Jejaring Kabupaten-kota Kreatif dilakukan dengan melibatkan seluruh potensi pemangku kepentingan pada tahapan pendataan dan pemetaan, penelitian, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pengembangan, sesuai dengan peran, fungsi, kapasitas dan kompetensi masing-masing pelaku.
  5. Jejaring Kabupaten-kota Kreatif Indonesia secara bersama-sama mendorong kerjasama dan kolaborasi antar pemangku kepentingan serta kabupaten-kota untuk terbentuknya pasar yang terbuka, terpercaya dan mensejahterakan pelakunya dengan basis ilmu pengetahuan, dan didukung oleh kegiatan penelitian dan pengembangan serta investasi seluruh sumber daya dan dukungan kebijakan yang spesifik.
  6. Jejaring Kabupaten-kota Kreatif dirancang untuk diselenggarakan dalam jangka menengah pertama sampai dengan tahun 2019, yang diturunkan menjadi program kegiatan tahunan di tingkat nasional yang mengakomodasi kegiatan serta sinergi kegiatan kabupaten-kota dan lintas pemangku kepentingan.
  7. Organisasi Jejaring Kabupaten-kotaK reatif Indonesia berbentuk organisasi perkumpula nindependen yang dipimpin oleh 7 orang dewan pengarah yang mewakili pemangku kepentingan kunci yaitu; perwakilan kota, kabupaten, swasta, akademisi, profesional/praktisi, komunitas, LSM, dan bekerja sebagai mitra pemerintah termasuk Badan Ekonomi Kreatif, Kementrian, Badan dan pemangku kepentingan terkait di tingkat nasional.
  8. Jejaring Kabupaten-kota Kreatif Indonesia bersepakat untuk melaksanakan pertemuan ketiga di Kota Malang secara bersama-sama seluruh kabupaten kota di Malang. Raya Pada bulan April  2016, dengan agenda utama penyampaian assestment dan pemetaan mandiri atas potensi, peluang dan tantangan pengembangan  kreatifitas di masing-masing daerah, sebagai bahan untuk penyusunan tujuan, strategi, lembaga dan program spesifik dimasing-masing daerah, kolaborasi antar daerah, program nasional dan kerjasama jejaring kabupaten-kota kreatif Indonesia di kancah Asia Tenggara.
  9. Peserta ICCC telah menetapkan nama resmi Jejaring Kabupaten-Kota Kreatif Indonesia JK3I, dengan brand name; Indonesia Creative Cities Network. Secara bersama-sama  formatur presidium yang bertugas sampai dengan 25 november 2015, dan bekerjasama dengan ketua pengurus definitive akan menyusun rancangan AD ART, program kegiatan dan jejaring nasional serta interrnasional, mempersiapkan penyelenggaraan pertemuan jejaring kabupaten-kota Kreatif Indonesia dengan anggota Irwan Ade Saputra, Makasar, Arief Ayip Budiman, Bali, M Arief Budiman – Yogya, Bandung Tita Larasati, Malang Wasto, Witonro, Kutai Kartanegara SawahLunto, Jon Hendri. Pengurus definitive dengan ketua Paulus Mintarga, Surakarta akan bekerja selama 2 tahun terhitung sejak 25 Oktober 2015.

Lanjutkan membaca DEKLARASI SOLO

Komandan Kini Tak Sendiri Lagi

Beberapa hari ini iklim demokrasi dan hiruk pikuk dunia poitik di Sulsel begitu apik ditayang dari mulau episode citra cagub hingga episode santai dan sehatnya warga Sulsel. Hari ini (30/10/16) kita menyaksikan atau bahkan mungkin merasakan begitu antusiasnya masyarakat turun kejalan-jalan utama kota daeng, bukan demontrasi pastinya melainkam berolahraga santai sambil bersilaturahmi seperti layaknya warga kota yang menikmati weekend dipagi hari. Tentu salah satu motivasinya berharap keberuntungan bisa membawa pulang hadiah rumah, umroh, sepeda, televisi, dll atau paling tidak bisa pulang dengan keringat membasahi baju pertanda anugerah kesehatan telah diraih.

Ribuan dan sekian ribu, teriak status nitezen di media sosial dan trending topik diskusi penghuni warkop yang sempat hadir dan dikuatkan dengan dengan foto serta video lautan manusia dengan seragam yang sama. Di Makassar memang sedang ada gawai dua organisasi yang sedang memperingati hari ulang tahunnya, organisasi yang sama- sama sudah berumur, organisasi yang lahir dari induk yang sama dan dimasa jayanya mereka selalu seiring sejalan bergandengan tangan menuju pulau harapan baik pada kepentingan nasional maupun lokal.

Golkar dan FKPPI dibentuk di era orde baru walau berbeda orientasi. Di usianya masing-masing Golkal Sulsel dan FKPPI Sulsel, entalh disengaja atau kebetulan menggelar acara yang sama, diwaktu yang sama dan ditempatnya juga tak jauh berjarak.  Jalan Santai Partai Golkar dan Jalan Santai Bela Negara FKPPI kegiatan itu diberi judul, dihadiri tokoh elit nasional hingga daerah dan dihibur oleh artis ibukota dari kerja keras dan  sosialisasi yang massif masing-masing panitia telah menyajikan tayangan episode menarik.

Dibalik ceriahnya minggu pagi di Kota Makassar, tersirat rentetan cerita panjang tentang politik kepengtingan dan kepentingan politik yang pengantar dimulainya episode baru politik pra pilkada langsung di 2018. Sebelumnya kita coba look back  beberapa waktu untuk menelisik gambaran dagelan politik local di Sulsel. Sama seperti kelahiran dua organisasi diatas, elit-elit politik Sulsel berpengaruh baik yang berkiprah dipanggung nasional maupun lokal berasal dari akar yang sama.

Akar yang berasal dari rindangnya pohon beringin sulsel yang kemudian menjelma menjadi beringin-beringin lain tentu dengan wujud berbeda. Sebut saja Syahrul Yasin Limpo, Nurdin Halid, Ilham Arief Sirajuddin, Ichsan Yasin Limpo, Agus Arifin Nu’mang serta sederet nama yang pernah merasakan kebanggaan bernaung dibawah beringin kuning.

Keampuhan dari tuah Partai Golongan karya memang tak perlu diragukan lagi, melewati masa demi masa, dari rezim ke rezim dalam perjalanan sejarah perpolitikan di Indonesia. Tauh dari sebuah partai yang menjadikan warna kuning sebagai warna kebesarannya pun terlihat dari kader-kader Golkar yang kemudian mendominasi elit-elit lokal di Sulsel, tak salah jika Sulsel kemudian mendapatkan predikat sebagai lumbung suara Golkar. Kurung waktu sepuluh tahun terakhir dan puncak rivalitas dari anak-anak emas Beringin Sulsel terlihat jelas pada Pilgub 2014.  Bangunan poros kepentingan politik Sulsel di 2014 terpolarisasi pada dua klan besar yakni klan SYL dan klan IAS. Syahrul dan Aco nama panggilan kedua punggawa klan dikala itu, mereka merupakan dua figure yang secara personal cukup dekat dan bersama Nurdin Halid yang kemudian memilih hijrah pada kancah politik nasional pernah duduk bersama membuat alur scenario cerita untuk episode politik di Sulsel. Bahkan konon kabarnya, kakak beradik seperguruan tersebut mempunyai jurus dan kesaktian yang tak jauh berbeda dalam dunia politik, sehingga mereka tak menemukan pendekar politik yang cukup tanggung untuk dijadikan lawan tanding di Sulsel. Sehingga tak punya pilihan selain saling berhadap-hadapan untuk membuktikan kesaktian ilmu kanuragan mereka.

Kembali pada Pilgub 2014, masih jelas ingatan kita kala itu dimana kata Don’t Look Back dan Semangat Baru Sulsel senantiasa menghiasa keseharian masyarakat baik koran, televisi, billboard, baliho, spanduk, tiang listrik hinga batang-batang pohon. Seakan menjadi perwakilan wujud dua tokoh raksasa berebut simpati dan dukungan. Bakhan kemenangan Sayang yang merupakan pasangan Syahrul Agus atas Pasangan Ilham-Azis yang dideklarasikan oleh penyelenggaran Pemilu tidak membuat tensi rivalitas keduanya menurun hingga berakhir di Mahkamah Konstitusi. Ujicoba kesaktian jurus pun berlanjut pada ivent politik dibeberapa perebutan Ketua Golkar Sulsel, beberapa suksesi organisasi hingga pilkada di beberapa Kab/Kota Sulsel, bahkan kabarnya hingga perhelatan politik diluar Sulsel pun kedua sering berhadapan.

Dan pertarungan terakhir keduanya sebelum IAS harus menghadapi masalah hukum yaitu pada perhelatan Pilwalkot Makassar. SYL memainkan dua pasangan jagoannya yaitu Supomo Guntur-Kadir Halid dari Partai Golkar dan Adik kandungnya Irman Yasin Limpo berpasangan dengan Busrah Abdullah, sedangkan Ilham Arief Sirajuddin menjagokan Danny Pomanto yang merupakan sahabat dan juag konsultan yang mendampinginya saat menjawab sebagai Walikota Makassar berpasangan dengan Syamsu Rizal MI kader Demokrat yang selalu mendampingi IAS ketika masih menjabat sebagai Ketua Partai Demokrat Sulsel. Dengan jumlah pasangan calon walikota dan wakil walikota yang cukup banyak yaitu sembilan pasangan, IAS kemudian mempertegas garis wilayah “kekuasaan politiknya” Kota Makassar dengan hasil kemenangan pasangan DIA untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Yang menarik pasca sepeninggalan IAS pada kancah politik lokal Sulsel, Sang Komandan seakan kehilangan “pasangan” yang senantiasa mewarnai riak-riak dinamika di Sulawesi Selatan. Ketangguhan politik yang berkarakter khas orang Makassar seakan tak tersalurkan, SYL kemudian menghabiskan waktu menjalankan rutinitas sebagai Gubernur Sulsel dengan tugas melayani masyakat serta menyisir agenda-agenda seremoni pemerintahan. Sekian lama para penikmat episode politik di Sulsel memendam rindu pada letupan-letupan yang tak terduga dari Sang Komandan.

Jika penulis bisa menyimpulkan, bahwa ikut sertanya SYL pada Munaslub Golkar di Bali selain sebagai jalan menuju naik level juga merupakan bentuk ekspresi dari seorang petarung yang cukup lama tak naik ring. Dan salah satu factor sehingga cita dan tujuan tak tercapai di Pulau Dewata adalah SYL kurang arena dan lawan tanding yang sepadan sebagai pemasanan sebelum bertanding.

Menuju 2018, Ivent politik Sulsel dan dibeberapa Kabupaten Kota masih menyisakan beberapa waktu, pastinya perubahan konstalasi politik akan menjadi sangat dinamis. Sehingga banyak petarung politik harus berhati-hati melangkah dan menggunakan juru wait and see  menunggu perkembangan detik per detik, walau terlihat beberapa nama pendatang baru dalam helat politik Sulsel yang akan mewarnai tampilan episode-episode berikutnya. Tapi jika melihat peta hari ini, maka di Finis akan berhadapan para kader tuah sang beringin kuning.

Kedepan klan SYL tak lagi harus takut sendiri, dari progress politik kekinian sepertinya  komandan akan mendapatkan lawan tanding yang sepadan untuk membuktikan kesaktiannya sebagai petarung, apakah lawan tandingnya adalah saudara seperguruannya ataukah pendatang baru yang tangguh kita tunggu episode selanjutnya. Yang pasti di hari minggu pagi ini dengan suasana santai nan sehat oleh Partai Golkar yang bertuah serta Organisasi para anak tentara menjadi babak baru di Sulsel, yang telah membuktikan kembalinya karakter petarung sejati seorang SYL serta kehadiran Nurdin Halid untuk pulang kampung memulai babak baru rivalitas politik sulsel sekaligus penyeimbang kekuatan politik lokal ditanah para pemimpin Bugis Makassar.

TRADISI AKLAMASI & POLITIK “JAMINAN”

Sepenggal Cerita Musda III Demokrat Sulsel

Dinamika Perhelatan Politik Partai Demokrat Sulawesi Selatan 2016 telah usai. Rangkaian kegiatan telah dirampungkan dan keputusan telah diketukpalukan, namun bagi kami gawai tersebut punya makna tersendiri.

Tepat September 2001 silam, Susilo Bambang Yudhoyono seorang Purnawirawan Jenderal bintang empat bersama beberapa koleganya mendeklarasikan Partai Demokrat dengan simbol mercy merah putih dengan latar biru. Seiring perjalanannya Demokrat kemudian berhasil menjelma menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Republik Indonesia, hal tersebut dibuktikan dengan menjadi pemenang Pemilu 2014 dan berhasil mendudukkan SBY sebagai Presiden RI dalam kurung waktu 10 tahun. Dengan mengandalkan brand partai modern serta memanfaatkan figur tokoh sentralnya yakni SBY, menjadikannnya sebagai salah satu gerbong terkuat dan cukup diperhitungkan dari sabang sampai merauke.

IAS, Demokrat dan Sulsel

Pun sama halnya dengan Partai Demokrat Sulawesi Selatan selain mengandalkan figur SBY, Demokrat Sulsel juga mengandalkan kader-kadernya yang cukup handal dalam mewarnai dinamika politik di Sulsel maupun pada panggung politik Nasional. Salah figur yang cukup menjadi andalan Partai mercy ini, yakni sosok Ilham Arief Sirajuddin yang kemudian dipercaya untuk menahkodai Partai Demokrat. Ketua Demokrat Sulsel yang juga merupakan seorang mantan Walikota Makassar dua periode, dengan segala potensinya IAS dinobatkan sebagai salah satu kontenstan  dalam Pilgub 2013, tentunya dengan mengendarai Partai Demokrat berpasangan dengan Azis Qahhar Mudzakkar. Selain itu IAS sebagai lokomotif gerbong Demokrat Sulsel juga berhasil mendudukkan kadernya baik pada jabatan eksekutif maupun legislatif dibeberapa Kab./Kota Se-Sulsel yang notabene dikenal merupakan lumbung suara Partai Golkar.

Dengan segala talenta, kepiawaian, modal sosial, kematangan, gaya kepemimpinan, gerbong politik, kekuatan finansial, jejaring yang luas, serta pengalaman politik yang dilewatinya, dengan kata lain semua syarat beliau penuhi sebagai salah satu tokoh politik Sulsel yang sangat berpengaruh, sehingga tidak salah jika IAS kemudian disejajarkan dengan ketokohan Syahrul Yasin Limpo yang merupakan Ketua Golkar dan Gubernur Sulsel dua periode. Dengan bersandingnya dua figur yang mempunyai hubungan emosional secara personal sekaligus rival politik yang kemudian menciptakan iklim keseimbangan dalam dinamika politik ditanah celebes.

Namun dikarenakan dirinya tersandung suatu masalah hukum, dengan legowo IAS melepaskan amanah Partai untuk konsen menghadapi masalah yang dihadapinya. Pada situasi tersebut, konsekuensi yang harus dihadapi Partai besutan SBY tersebut adalah mencari sosok figur yang bisa mengendalikan roda organisasi serta mengawal agenda politik partai demi menjaga stabilitas performa partai baik secara internal maupun eksternal. Disinilah awal momentun yang cukup menarik bagi kami untuk diamati sebab tersirat banyak makna dan pelajaran yang bisa dipetik.

Rivalitas Kekaderan KB dan DI

Sepeninggalan Aco  (nama kecil Ilham Arief Sirajuddin) sebagai Ketua Partai Demokrat Sulawesi Selatan, memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada perubahan peta kekuatan politik yang berujung pada dinamika politik yang sangat dinamis. Hal tersebut juga terjadi pada dinamika internal organisasi Partai Demokrat Sulsel, terlebih pada siapakah figur yang layak dan pantas menerima tongkat estafet kepemimpinan partai. Kader-kader potensial yang dilahirkan oleh Demokrat memang cukup melimpah, namun disadari bahwa belum ada kader secakap figur IAS. Namun hal tersebut bukan menjadi alasan untuk Demokrat tinggal diam menghadapi situasi tersebut, keputusan untuk menunjuk pelaksana tugas adalah suatu hal mutlak. Dari sekian banyak kader potensial, kemudian mencuat dua nama yakni Ni’matullah yang biasa dipanggil Ketua Besar atau KB dan Syamsu Rizal MI yang populer dengan panggilan Deng Ical atau DI, yang diprediksi bisa mengawal serta memegang amanah tersebut.

Ni’matullah seorang kader Partai Demokrat yang memang dikenal sebagai aktivis serta cukup handal sebagai seorang organisatoris, bermodalkan pengalaman menjadi anggota legislatif Sulsel dua periode serta menjabat Wakil Ketua DPRD Prov. Sulsel. Sepak terjangnya didunia politik Sulsel sudah cukup untuk dijadikan pilihan sebagai pelaksana tugas Ketua Demokrat Sulsel. Selain itu, nama Syamsu Rizal MI yang populer dipanggil Deng Ical juga dijadikan pilihan menarik bagi Partai Demokrat, sebab selain menjabat Wakil Walikota Makassar juga pernah menjadi Anggota DPRD Kota Makassar. Tak beda dengan KB, DI pun dikenal aktivitis ketika semasa kuliah serta aktif dalam berbagai organisasi yang membuat sosoknya cukup mencuri perhatian masyarakat dengan karakter somberenya, apalagi dengan usia yang masih muda.

Dengan terpaut hubungan emosional sebagai senior dan yunior dikampus merah Unhas, DI kemudian lebih nyaman memikul amanah Plt. Sekretaris dengan segala potensi dan keterbatasannya, walaupun nama DI juga punya kans serta peluang yang cukup besar memegang jabatan Plt. Ketua dan Deng Ical dikenal sebagai salah satu kader yang dekat dengan Ilham Arief Sirajuddin. Ni’matullah akhirnya kemudian didaulat sebagai Plt. Ketua, kolaborasi kedua kader tersebut membuat Partai Demokrat Sulsel kembali eksis serta mampu melewati beberapa momentum politik. Duet Plt. Ketua dan Sekretaris ini kemudian mengemban tugas untuk menggelar Musyawarah Daerah agar terbentuk kepengurusan defenitif Partai Demokrat Sulsel. Seiring berjalannya waktu dinamika internalpun cukup menarik dengan berbagai macam kepentingan menjelang dihelatnya Musda oleh DPP Partai Demokrat.

Menjelang pelaksanaan Musda Demokrat Sulsel, melahirkan ragam wacana seperti calon ketua yang berasal dari kader atau non kader, wacana melanjutkan paket Ketua dan Sekretaris Ulla dan Ical serta wacana head to head plt. Ketua dan Sekretaris. Respon publik cukup beragam baik melalui pembicaraan internal kader, diskusi warung kopi hingga analisis dari pengamat politik diberbagai media. Kamipun sebagai orang yang sedikit mengenal Deng Ical, mencoba mengamati dan mendiskusikan hal tersebut baik kepada sesama teman, kolega bahkan kepada DI sendiri. Hal yang menjadi perhatian, mungkin juga kegelisahan kami adalah kesiapan infrastruktur dan suprastruktur politik Deng Ical dalam menghadapi suksesi dan juga apabila diamanahkan untuk mengemban tugas yang berat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel. Apalagi mengingat standar tinggi yang telah diterapkan oleh IAS semasa menjadi masih menjabat Ketua, yang menjadikan Demokrat sebagai kekuatan besar yang diperhitungkan. Realitas tersebut kemudian juga disadari DI yang lebih nyaman dengan melanjutkan paket dengan Ni’matullah dengan posisi Sekretaris terlebih lagi dengan tanggung jawabnya sebagai Wakil Walikota Makassar.

Dalam politik memang terkadang banyak hal yang tidak dapat diprediksi, perubahan konstalasi bisa bergerak setiap saat. Tidak lama berselang nama DI kembali menghiasi media terkait pernyataan kesiapannya berkompetisi merebut kursi 01 Demokrat Sulsel yang berhadapan dengan Plt. Ketua yang tidak lain adalah pasangan paketnya dalam mengawal Demokrat Sulsel pasca IAS tidak lagi menjabat. Kegelisahan yang dulu telah sirna kemudian timbul kembali bercampur ketegangan, walaupun kami bersama Deng Ical telah beberapakali menghadapi momentum kemenangan politik maupun kekalahan dalam politik, tapi mungkin kali ini agak berbeda entah apa yang membuatnya berbeda. Setelah mengkonfirmasi tersebut langsung kepadanya, kami mendapatkan jawaban yang cukup realitis yakni perhelatan ini kemudian bertujuan untuk menjaga serta  merawat gerbong besar yang telah dibangun oleh Ilham Arief Sirajuddin yang diperkuat oleh keinginan serta harapan DPP Partai Demokrat “memaksa” agar Deng Ical bisa membawa kemenangan Partai Demokrat Sulsel kedepan.

“Jaminan” Skenario Aklamasi

Sebagaimana layaknya sebuah organisasi yang sehat serta konsistensi organisasi dalam menjalankan amanat AD/ART, periodesasi kepengurusan merupakan suatu keniscayaan. Begitupun halnya dengan Demokrat Sulsel, Musda sebagaimana diatur dalam AD/ART hasil kongres Demokrat mewajibkan adalah reorganisasi setiap lima tahun sekali. Demokrat Sulsel dengan segala kesiapannya menggelar Musda III ditahun 2016, diwarnai dengan aroma rivalitas, tensi politik yang cukup memanas serta tarikan kepentingan internal Demokrat maupun kepentingan yang berkaitan dengan momentum politik kedepan seperti Pemilu, Pilkada Gubernur, Pilkada Kab./Kota serta event politik lain yang melibatkan tokoh politik serta partai sebagai sebuah organisasi politik.

Menyinggung kesiapan dan kepercayaan diri Deng Ical menerima tawaran bertarung dalam menghadapi Musda tersebut, terjawab ketika intensistas Deng Ical bersama tim pemenangan internal Demokrat berkomunikasi pihak DPP Partai Demokrat, yang kemudian klimaks pada pertemuan di Puri Cikeas bersama beberapa Pengurus DPP, DPD serta Beberapa Ketua DPC Kab/Kota. Hasil pertemuan yang kemudian menjadi modal serta “jaminan” keberpihakan DPP terhadap posisi Deng Ical sebagai kompetitor yang kemudian dipegang hingga berakhirnya forum Musda.

Ibarat H2C, kamipun berharap-harap cemas seperti nantinya hasil suksesi tersebut, lalu kamipun mencoba melihat-lihat berita tentang bagaimana situasi Musda yang telah dihelat didaerah lain di Indonesia. Beberapa berita yang memuat tentang Musda Demokrat seperti Mudarta terpilih Aklamasi di Musda Demokrat Bali oleh suaradewata.com, Suardi Duka terpilih aklamasi  di Demokrat Sulbar oleh antarasulsel.com, Ketua Demokat Kota Depok dipilih aklamasi oleh jabarmerdeka.com, Syahaiee Jaang aklamasi pimpin Demokrat oleh kaltim.tribunnews.com, Musda Demokrat Lampung aklamasi pilih Ridho oleh harianlampung.com, Anwar Hafid aklamasi pimpin kembali Demokrat Sulteng oleh radarmetromorowali.com dan masih banyak lagi. Kesimpulan dari hasil tracking media sederhana serta diskusi kecil kebeberapa pihak yang pernah mengamati tradisi demokrasi yang diterapkan dalam Musda Demokrat, menyimpulkan bahwa tradisi skenario Aklamasi Musda Demokat tersebut merujuk roh serta spirit hasil Kongres Demokrat IV di Surabaya dimana SBY juga terpilih menjadi Ketua Demokat secara aklamasi. Suatu analisis sederhana yang pastinya membuat kami serta pendukung Deng Ical sebagai obat penawar ketegangan memasuki arena Musda, dari luar kami mengikuti wacana serta analisis para pakar yang kemudian menambah keyakinan akan hasil akhir nantinya. Disisi lain juga wacana yang sama berlaku pada tim serta pendukung Ni’matullah dengan keyakinan serta kerja politik yang handal semakin mendramatisir bingkai dinamika yang disuguhkan oleh kedua Kader Demokrat tersebut. Maka semakin menarik  program H2C dalam benak masing-masing orang yang mengikuti Musda ini.

Four Points by Sheraton Makassar 19 Januari 2016, gong penanda dimulai Musyawarah Daerah Partai Demokrat Sulsel III. Walaupun tertutup bagi kalangan ekternal Demokrat, tapi bisa dipastikan bahwa suasana barisan pendukung masing-masing kandidat mengambil tempat baik DPC, Pengurus DPD mungkin juga pengurus DPP akan bergerombol sesuai kelompok dukungannya. Maka yang berlaku saling melirik, mengintai, menjaga jarak, tegang atas bawah, nafas memburu, senyum seadanya, butiran keringat diruang ber-AC serta hal lain seperti layaknya ketika menonton dua kelompok gangster yang siap saling terkam. Dan semakin menariknya lagi mereka adalah orang mungkin saja pernah makan sepiring bersama, pernah tinggal serumah, pernah berjuang bersama, pernah susah bersama, pernah senang bersama, pernah saling bantu dalam hal baik ataupun kurang baik mungkin ataupun yang dilakukan bersama. Tapi sekali lagi kami sadar inilah rumus baku dalam politik yakni Tak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik, yang abadi adalah ketika keberpihakan kita pada kepentingan yang sama, maka engkau adalah kawanku sebaliknya jika keberpihakan kita pada kepentingan yang beda, maka engkau adalah lawanku.

Kembali pada rivalitas dan penentuan hasil akhir pertarung ini. Detik demi detik berlalu dengan masing-masing keyakinanpun dipegang erat, hingga tiba pada kenyataan posisi keduanya imbang sehingga penentunya adalah para delegasi yang terpandang utusan SBY. Hingga posisi imbangpun bagi tim Deng Ical skenario “jaminan” pun masih berlaku yang kemudian dipertegas oleh sang pembawa jaminan. Hingga akhirnya ditengah hari itu suatu kejadian yang tak pernah sama sekali terlintas dibenak kami mungkin juga orang lain telah terjadi, jaminan pun menghampiri Ni’matullah yang memang juga mengharapkan itu, seperti halnya yang diharapkan oleh Deng Ical, keberuntungan lebih berpihak kepada yang lain. Yang tersisa dari cerita ini adalah runtuhnya tradisi Aklamasi Partai Demokrat dan kejamnya realitas demokrasi yang dipertontonkan.

Sekali lagi kami sampaikan sebagai orang sedikit tahu tentang sosok serta karakter Deng Ical, meyakini bahwa keihlasan serta kebesaran hatinya akan menerima jika memang sedari awal memang tidak menginginkan dirinya yang menduduki amanah tersebut. Sebagai manusia biasa rasa kecewa pasti akan timbul namun bukan kecewa karena tidak mencapai tujuan, tapi betapa besar resiko politik yang harus ditanggung oleh Partai Demokrat Sulsel. Menurut hemat kami sebagai orang diluar Demokrat namun dekat dengan Demokrat, setengah dari potensi kekuatan politik yang telah dirintis oleh para kader-kader Demokrat terdahulu dikorbankan untuk sebuah hasil demokrasi yang sebenarnya bisa disederhanakan. Sebuah proses yang menghasilkan kedengkian, kecurigaan, benih permusuhan, dan merusak keutuhan silaturahim orang bernaung dalam kebesaran panji Demokrat. Dan resiko paling fatal adalah bisa jadi runtuhnya kejayaan Demokrat di Sulsel, walaupun itu tidak diinginkan.

Bukan soal kalah dan menang, sebab kami mungkin lebih sering mengalami kekalahan namun dengan rasa nikmat kemenangan. Sebab tidak semua kemenangan selalu berujung pada kenikmatan, pun sebaliknya Kekalahan juga terkadang berujung pada kenikmatan. Seringkali nilai-nilai kekalahan lebih bermakna dibandingkan pada kemenangan. Kepada Kakanda Ni’matullah bersama tim yang sudah bekerja  luar biasa; Salamaki dan semoga amanah menjalankan tugas mendulang kembali kesuksesan partai Demokrat Sulsel.

Coretan ini hanya sebuah sebuah pandangan subjektifitas serta refleksi atas banyak pelajaran serta makna yang bisa kami petik dari proses ini. Salam hangat dari kami Sahabat Deng Ical.

Menggagas Makassar Kota Kreatif

Epaper rasul hal 1

PREDIKAT Kota Kreatif mungkin belum sepopuler istilah Kota cerdas, kota pendidikan, kota bersih, kota budaya atau istilah untuk predikat kota-kota di Indonesia bahkan di dunia. Beberapa tahun terakhir ini kota kreatif mulai jadi perbincangan dan jadi salah wacana yang banyak dikaji oleh akademisi, pemerintah bahkan aktivis-aktivis komunitas kreatif.

Perubahan peradaban manusia yang kian dinamis, juga mengisyaratkan perkembangan paradigma sistem ekonomi dunia secara umum. Menurut beberapa ahli ekonomi yang membagi fase perkembangan paradigma ekonomi mulai dari Agriculture Economic, Industrial Economic, Digital/ Knowledge Economy dan kini kita berada fase Creative Economic, Perkembangan teknologi yang kian pesat, dimana sudah hampir segala aspek kehidupan dapat dilakukan dengan mengandalkan teknologi sehingga menyebabkan tinggi jumlah pengganguran.

Ditambah potensi sumber daya alam yang tergerus dan semakin tingginya biaya produksi dalam mengelolah hasil dari alam. Semakin kompleksnya problematika kehidupan manusia saat ini, kemudian mengharuskan menciptakan sumber ekonomi sendiri.

Pada era ini kreatifitas serta inovasi manusia ditempatkan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional maupun global. Ekonomi kreatif kemudian dijadikan jalan alternatif yang cukup menjanjikan agar masyarakat dapat hidup lebih sejahtera.

Berbicara tentang potensi Kota Makassar sebagai Kota Kreatif Dunia, maka Makassar harus mempertegas potensi industri ayang akan dimaksimalkan untuk dikembangkan yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan tentunya juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi kota.

Selain indikator dari UNESCO, ICCN juga melahirkan 10 prinsip kota kreatif yaitu Kota kreatif adalah kota yang welas asih, kota yang inklusif, kota yang melindungi hak asasi manusia, kota yang memuliakan kreativitas masyarakatnya, kota yang tumbuh bersama lingkungan yang lestari, yang hidup selaras dengan dinamika lingkungan dan alam sekitar, kota yang memelihara kearifan sejarah sekaligus menbangun semangat pembaharuan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik untuk seluruh masyarakatnya, kota yang dikelola secara transparan, adil dan jujur, yang mengedepankan milai-nilai gotong royong dan kolaborasi, kota yang dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, kota yang memanfaatkan energi terbarukan,Kota kreatif adalah kota yang mampu menyediakan fasilitas umum yang layak untuk masyarakat.

Sedangkan Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Triawan Munaf telah membuat 16 subsektor bidang ekonomi kreatif yang bisa diaplikasi oleh kota dan kabupaten di Indonesia, yaitu aplikasi dan pengembangan game, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio.

Dengan demikian Kota Makassar sebagai salah satu jejaring kota kreatif Indonesia atau kota lain di Indonesia harus siap memenuhi 18 indikator kota kreatif versi UNESCO, lalu mengimplementasikan salah satu prinsip kota kreatif dari 10 prinsip versi ICCN dan mengembangkan salah satu dari 16 subsektor ekonomi kreatif versi Bekraf RI.

Kota Makassar dengan berbagai macam industri kreatif yang terus berkembang, tidak terlepas dari support serta keterlibatan Pemerintah Kota Makassar dan tumbuh suburnya komunitas kreatif yang senantiasa menghasilkan inovasi serta kreasi yang berkearifan lokal.

Tiba saatnya seluruh elemen atau unsur ‘quadruple-helix’ seperti Pemerintah, Akademisi, Pelaku Bisnis dan Komunitas Kreatif bisa kolaborasi dan menyatukan visi arah pengembangan ekonomi kreatif.

Dengan tujuan bukan hanya untuk mengejar predikat Kota Kreatif Dunia namun menargetkan tujuan lebih substansi sesuai amanah undang-undang yakni kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Dan juga inin merupakan salah satu alternatif sektor ekonomi yang menjadi solusi Kota Makassar menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean yang kini telah memasuki babak baru. Tulisan ini hanya sekedar pemantik untuk kita semua, agar Makassar kedepan bisa berdaya saing seperti cita-cita Makassar Kota Dunia Dua Kali Tambah Baik. (*)

Sumber : http://rakyatsulsel.com/menggagas-makassar-kota-kreatif.html

telah terbit pada rubrik Vox Populi Harian Rakyat Sulsel, 07 April 2016

PEMUDA AGEN PENGGERAK EKONOMI KREATIF

creative enonomic  copy.jpg

Sebuah keniscayaan bahwa dalam perkembangan peradaban manusia akan senantiasi dibarengi dengan perkembangannya suatu sistem perekonomian yang bertumpu pada potensi Sumber daya manusia serta sumber daya alam, baik berupa jasa maupun perdagangan. Perubahan pandangan serta paradigma manusia menggagas suatu pola sistem ekonomi, kemudian dikemukakan oleh para ilmuwan ekonom yang berujung pada pemetaan sistem ekonomi. Hal tersebut ditandai dengan lahirnya teori-teori yang mengemukakan fase perkembangan ekonomi. Sejak zaman manusia pertamakali menghuni bumi hingga tiba pada saat ini, secara garis besar pengklasifikasian fase perkembangan ekonomi terdiri dari empat bagian yang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia.  Fase yang pertama adalah fase Agriculture Economic pada fase ini merupakan masa dimana sumber daya alam merupakan tumpuan utama dalam menjalankan roda perenomian dengan bertani, berkebun beternak dll. Yang di sebabkan oleh melimpah ruahnya sumber daya alam yang dapat dikelola oleh manusia. Fase kedua yakni Industrial Economic  dimana berkolaborasinya potensi daya cipta kreasi manusia dengan potensi sumber daya alam. Perkembangan ekonomi dibidang jasa, industri dan perdagangan pada masa ini, yang kemudian menjadi momentum dimulainya peradaban era moderenisasi. Dan ditegaskan oleh ahli-ahli sejarah bahwa perubahan fase Agriculture menuju fase Indsutrialisasi ditandai dengan terjadinya revolusi industri di Erofa.

Fase berikutnya adalah Digital/ Knowledge Economy atau yang lebih populer dengan era teknologi informasi, dimana kecanggihan teknologi menjadi pemicu utama dalam pertumbuhan ekonomi. Peralihan tersebut disebabkan oleh semakin berkembangannya ilmu pengetahuan dan meningkatnya potensi sumber daya manusia serta menjadi solusi terhadap ketergantungan manusia pada sumber daya alam yang secara kuantitas maupun kualitas sudah sangat terbatas. Dan fase terakhir adalah masa yang baru saja dimulai yakni Creative Economic. Perkembangan teknologi yang kian pesat, dimana sudah hampir segala aspek kehidupan dapat dilakukan dengan mengandalkan teknologi sehingga menyebabkan tinggi jumlah pengganguran. Ditambah potensi sumber daya alam yang tergerus dan semakin tingginya biaya produksi  dalam mengelolah hasil dari alam. Semakin kompleksnya problematika kehidupan manusia saat ini, kemudian mengharuskan menciptakan sumber ekonomi sendiri. Pada era ini kreatifitas serta inovasi manusia ditempatkan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional maupun global. Ekonomi kreatif kemudian dijadikan jalan alternatif yang cukup menjanjikan agar masyarakat dapat hidup lebih sejahtera. Menurut definisi Howkins, Ekonomi Kreatif adalah kegiatan ekonomi dimana input dan outputnya adalah Gagasan. Gagasan atau ide yang merupaka pokok penting dalam ke kreatifan seseorang.

Kini diseluruh dunia industri kreatif menjadi bagian penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi global yang terus memperlihatkan perkembangan pada arah positif seiring dengan perkembangan peradaban dunia, model industri ekonomi kreatif suatu formula yang berfungi menghubungkan antara kebudayaan, bisnis dan teknokogi. Bahkan menurut data pertumbuhan ekonomi disemua negara pada tahun 2013 menunjukkan pertumbuhan ekonomi kreatif  lebih besar diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi global, termasuk pada penciptaan lapangan kerja, nilai usaha, jumlah usaha dan peningkatan volume ekspor produk industri kreatif.

Di Indonesia ekonomi kreatif didefinisikan sebagai suatu aktivitas ekonomi yang memanfaatkan kreativitas, inovasi, keterampilan serta bakat yang menjadi potensi masing-masing individu yang bernilai tambah secara finansial. Dalam perjalanannya ekonomi kreatif di Indonesia menunjukkan performa yang sangat positif, dengan berbagai regulasi dan kebijakan yang sangat pro terhadap pelaku ekonomi kreatif, bahkan saat ini pemerintah memberi porsi khusus pada penggiat sektor ekonomi kreatif. Seperti adanya paket kebijakan ekomoni Jokowi-JK terkait ekonomi ke kreatifi. Dan juga terbentuknya Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia yang konsen bekerja untuk mengawal dan mendampingi pelaku Industri kreatif serta komunitas kreatif. Selain itu, keberpihakan pemerintah atas potensi ekonomi kreatif di Indonesia dengan adanya Paket kebijakan  terkait ekonomi kreatif oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI)  hendaknya dijadikan peluang  bagi  generasi muda untuk membangun kisah suksesnya di bidang  ekonomi kreatif. Menurut data Kementrian Pariwisata dan Ekonomi dan Kreatif, ekspor Industri Kreatif Indonesia pada tahun 2013 telah mencapai Rp. 119. Ini tentu sebuah industri yang sangat potensial bagi perkembangan negeri ini. Kreatifitas memang hal yang penuh dengan segala keberdayaan. Kreatifitas mengandung kekuatan imajinasi yang tak terbatas. Bahkan menjadikan Indonesia menjadi negara yang terkuat pertumbuhan ekonomi dibanding negara-negara di Asean.

Sejak 2015 Indonesia dan negara-negara di Asean telah memasuki babak baru yakni diterapkannya Asean Economic Community atau Masyarakat Ekonomi Asean, dimana tak ada lagi sekat antar negara dalam menjalankan aktifitas ekonomi. Kondisi ini kemudian menjadi tantangan sekaligus peluang bagi masyarakat Indonesia, terkhusus bagi Pemuda di usia produktif. MEA menjadi sebuah tantangan besar, jika sumber daya manusia tidak dipersiapkan untuk bersaing secara terbuka dengan sumber daya manusia dari negara-negara Asean lainnya yang akan menjadi Indonesia sebagai pasar yang potensial menawarkan produk, jasa serta sumber daya manusia yang berkualitas. Sedangkan dengan potensi sumber daya manusia yang banyak, sumber daya alam yang melimpah dan ditopang dengan ragam keatifan lokal masyarakat indonesia menjadi modal besar untuk menjadi pemenang dalam percaturan ekonomi global kedepan. Tentunya semua tidak terlepas bagaimana pemerintah memainkan peranannya dalam memaksimal seluruh potensi tersebut.

Salah satu solusi tepat dalam menghadapi MEA dewasa ini, dengan menjadi industri kreatif sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana kita bahwa ketahui bahwa dalam menjalankan industri kreatif dibutuhkan daya kreatifitas, keberanian dalam keluar dari zona nyaman, inovasi yang cerdas, serta berwawasan luas sehingga mampu memahami kebutuhan pasar dinegara-negara Asean lainnya. Dan dibutuhkan semua itu dibutuhkan sumber daya manusia yang sehat, kuat dan enerjik, dan ciri tersebut ada pada sosok pemuda-pemuda Indonesia. Olehnya itu, mengapa Pemuda harus memegang peranan sentral dalam menjalankan dan menyongsong MEA. Dengan semangat yang dimiliki pemuda serta senantiasi hadir untuk menjalankan tugas sebagai agen perubahan menuju arah yang lebih.  Hal tersebut sangat terkait dengan ciri manusia yang bisa mengambil peran dalam industri kreatif, manusia dengan semangat pembaharu, inovasi, dan kreatifitas-kreatifitasnya.

Bonus Demografi merupakan salah satu keuntungan Indonesia saat ini. Suatu kondisi dimana struktur penduduk didominasi oleh usia produktif atau jumlah pemuda lebih besar dibanding kelompok usia lainnya. Jumlah pemuda di Indonesia memiliki angka yang cukup fantastis yaitu sekitar 43 persen dari total keseluruhan rakyat Indonesia atau sekitar 103 juta jiwa, sehingga Indonesia memiliki potensi sumber daya pemuda secara kuantitas sangat besar. Dengan karakter pemuda yang mampu berpikir diluar kebiasaan, menjadi faktor utama pemuda dapat berpikir secara kreatif dan inovatif untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi lebih bernilai ekonomis.

            Jumlah pemuda di Indonesia memiliki angka yang cukup fantastis yaitu sekitar 43 persen dari total keseluruhan rakyat Indonesia atau sekitar 103 juta jiwa. Pemuda merupakan kunci dari keberhasilan penerapan ekonomi kreatif di Indonesia. Pemuda memiliki kelebihan yaitu mampu berpikir diluar kebiasaan atau disebut juga out of the box. Dengan adanya kemampuan tersebut, pemuda dapat berpikir secara kreatif dan mampu mengembangkan sesuatu menjadi lebih bernilai

Sebagai tumpuan masa depan bangsa, dinamika pemuda hari ini kemudian menjadi gambaran dinamika masa depan. Pemuda Indonesia atau mungkin saja juga dialami oleh pemuda negara lain, dengan berbagai macam masalah yang disebabkan kesenjangan sosial dan ekonomi di tengah-tengah masyarakat. Pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, serta kenakalan remaja lainnya. Kemajuan teknologi informasipun tak selalu berdampak positif, setidaknya dapat dilihat pada tingkah laku remaja, pemuda dan bahkan juga memperngaruhi para orang tua dengan sikap acuh dan tidak lagi peduli dengan lingkungan sekitar. Hal tersebut akhirnya menggerus nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi falsafah hidup para pendahulu kita.

Dengan demikian bahwa generasi kini harus dihadapkan pada  tantangan dan masalah yang  begitu berat, selain tantangan dalam menghadapi probematika sosial dalam waktu bersamaan tantangan persaingan globalisasi yakni Masyarakat Ekonomi Asean atau MEA yang kini sudah didepan mata. Pertanyaannya kemudian, siapakah yang harua bertanggungjawab dan bagaimanakah harus menghadapi situasi ini? Suatu pertanyaan sederhana, namun tidak sederhana untuk dijawab. Dalam membedah dan mencari solusi memang dibutuhkan suatu kajian mendalam dan konperhensip dari semua sudut pandang , sehingga solusi yang dihasilkan juga tidak parsial. Tanggungjawab terhadap hal tersebut, tidak hanya menjadi bagian dari orang tua, pemerintah tapi seluruh elemen baik itu lingkungan, situasi kondisi dan kembali pada kesadaran diri bahwa pundaknyalah cita-cita luhur masa depan bangsa dititipkan.

Namun dari sekian banyak deretan masalah yang kemudian disebut penyimpangan dan perbuatan negatif akibat ulah dan prilaku pemuda, harapan akan lahirnya generasi-generasi terbaik yang siap menjawab tantangan situasi dunia masihlah banyak. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya sosok pemuda sukses dengan talenta ktreativitas serta inovasi dalam berkarya dengan setumpuk cerita yang menginspirasi pemuda-pemuda lainnya. Beberapa nama pemuda yang berhasil mencuri perhatian banyak orang didunia seperti pendiri Facebook Mark Zuckerberg seorang pemuda Amerika yang menjadi salah satu orang terkaya didunia, Matt Mullenweg Dialah tokoh dibalik terciptanya WordPress, John Vechey sang pencipta game PopCap di komputer, Blake Ross pencetus browser Mozilla Firefox, Chad Hurley pemuda yang mendirikan dan mantan CEO situs berbagi video Youtube.  Dan masih banyak lagi.

Sedangkan di Indonesia sederet daftar nama pemuda yang sukses seperti Nadiem Makarim, dengan bisnis Go-Jek yang sedang naik daun, Andrew Darwis pendiri situs forum terbesar di indonesia bernama Kaskus, Harry Akbar bisnis batik yang mengharumkan Indonesia, Yoris Sebastian general manager Hard Rock Cafe termuda di Asia, Yasa Paramita Singgih, bisnis fashion pria online dengan brand Men’s Republic, Fahma Waluya Rosmansyah dan adiknya bernama Hania Pracika Rosmansyah yang menciptakan aplikasi dan game online, Reza Nurhilma pemilik Keripik Maicih dan tentu nama-nama pemuda lainnya yang mampu membuat terobosan dengan kreativitas yang dimilikinya untuk menjadikan sebuah bisnis potensial dan menguntungkan. Mereka kini sudah menikmati hasil dari kreatifitas yang dimilikinya tersebut. Puluhan milyar telah mereka peroleh dari bisnis kreatif yang dikelolanya. Inilah potensi anak muda dibalik melesatnya pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Kesuksesan pelaku industri kreatif dan semakin pesatnya pertumbuhan industri kreatif  dan dan menjadi salah binis yang cukup diperhitungkan di Indonesia.

Di Indonesia telah banyak melahirkan pemuda sukses dibidang industri kreatif, namun untuk memaksimalkan potensi dalam industri kreatif salah satunya dengan adanya pengklasifikasian atau pemetaan subsektor yang berpotensi dan berkontribusi di bidang industri kreatif bagi pemuda, sehingga pemuda atau pelaku industri kreatif dapat melihat peluang yang strategis dalam memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Pemerintah daerah maupun steakholder terkait sangat yang berkepentingan untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan untuk meningkatkan kontribusi daya serap tenaga kerja sektor industri kreatif di masa depan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Masing-masing daerah di Indonesia mempunyai karakter dan kearifan lokal dengan keunggulannya, potensi hasil karya dan sumber daya manusia yang berbeda-beda sehingga pola strategi, kebijakan dan program yang diperuntukan bagi industri kreatif juga berbeda. Pembinaan kewirausahaan serta kebijakan permodalan dapat dilakukan oleh pemerintah bekerjasama dengan elemen masyarakat yang ada tergantung pada basis potensi wilayahnya. Program dapat diselaraskan dengan institusi pendidikan, sehingga ada kajian yang komprehensif tentang potensi industri kreatif yang strategis dikembangkan. Hal tersebut menjadi alasan betapa pentingnya peran akademisi yang bisa bersinergi dengan unusr lain dalam ekonomi kreatif.

Kebijakan pemerintah tentang pengembangan industri kreatif di Indonesia membuktikan bahwa pemerintah punya perhatian serius, salah satunya dengan membuat pemetaan subsektor ekonomi kreatif yang bisa diaplikasikan oleh Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia terdiri dari 16 subsektor yaitu aplikasi dan pengembangan game, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio.

Dengan pemetaan subsektor strategis dibarengi dengan berbagai kebijakan dan regulasi oleh pemerintah memposisikan industri kreatif tidak bisa lagi disepelekan, karena sudah terbukti dapat meningkatkan nilai ekonomis masyarakat yang berujung pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi suatu daerah maupun negara. Namun hal tersebut bukan terjadi serta merta, tapi ada beberapa hal yang melatarbelakangi dan menjadi faktor sehingga industri kreatif mampu bersaing dengan industri lain, yakni Kreativitas Anak Muda yang menjadi pelaku dalam industri kreatif, kemajuan teknologi yang menjadi pelengkap dan pendukung kreativitas para pemuda dengan industri kreatif berbasis komputer dan internet, Akses komunikasi juga merupakan salah satu yang tak bisa dilewatkan dalam membuat melesatnya industri kreatif, meningkatnya pengguna media sosial yang menjadi pasar paling potensial industri kreatif khusunya industri digital.

Laju perkembangan industri kreatif yang cukup signifikan, bukan berarti tanpa kendala.  Ada lima kendala utama dalam yang menjadi perhatian dalam penembangan ekonomi  kreatif, yakni skill dalam pemanfaatan teknologi, akses serta semakin terbatasnya bahan baku, persoalan modal usaha bagi pelaku industri kreatif, perlindungan atas karya cipta industri kreatif/hak cipta, masih kurangnya ruang publik yang menjadi salah satu faktor pendukung industri kreatif dan akses terhadap pemasaran karya industri kreatif. Semua kendala tersebut dapat diatasi dengan sinergitas seluruh elemen masyarakat atau unsur ‘quadruple-helix’ yakni kolaborasi antara Pemerintah, Akademisi, Pelaku Bisnis dan Komunitas Kreatif, yang membuat pola sinergitas yang saling mendukung untuk pencapaian visi pengembangan industri kreatif.

Dari pemaparan diatas tentang ekonomi kreatif, terlihat jelas posisi dan pentingnya peranan pemuda sebagai ujung tombak kesuksesan dan pembangunan ekonomi kreatif serta agen penggerak berkembangnnya industri kreatif di Indonesia. Harapan dengan semakin banyak generasi muda yang tertarik dalam industri kreatif dan mampu sebagai penggerak perubahan ke arah bisnis dan kemandirian. Untuk menciptakan generasi muda yang berdaya saing, dibutuhkan dukungan semua pihak dalam menggerakkan sektor usaha yang dikelola oleh Pemuda. Dengan demikian tidak ada alasan bagi pemuda untuk berpangku tangan dan tidak percaya diri dengan potensi yang dimiliki untuk bersaing dengan sumber daya manusia dari negara lain dalam rangka menghadapi persaingan global MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang telah memasuki tahap permulaan.