TRADISI AKLAMASI & POLITIK “JAMINAN”

Sepenggal Cerita Musda III Demokrat Sulsel

Dinamika Perhelatan Politik Partai Demokrat Sulawesi Selatan 2016 telah usai. Rangkaian kegiatan telah dirampungkan dan keputusan telah diketukpalukan, namun bagi kami gawai tersebut punya makna tersendiri.

Tepat September 2001 silam, Susilo Bambang Yudhoyono seorang Purnawirawan Jenderal bintang empat bersama beberapa koleganya mendeklarasikan Partai Demokrat dengan simbol mercy merah putih dengan latar biru. Seiring perjalanannya Demokrat kemudian berhasil menjelma menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Republik Indonesia, hal tersebut dibuktikan dengan menjadi pemenang Pemilu 2014 dan berhasil mendudukkan SBY sebagai Presiden RI dalam kurung waktu 10 tahun. Dengan mengandalkan brand partai modern serta memanfaatkan figur tokoh sentralnya yakni SBY, menjadikannnya sebagai salah satu gerbong terkuat dan cukup diperhitungkan dari sabang sampai merauke.

IAS, Demokrat dan Sulsel

Pun sama halnya dengan Partai Demokrat Sulawesi Selatan selain mengandalkan figur SBY, Demokrat Sulsel juga mengandalkan kader-kadernya yang cukup handal dalam mewarnai dinamika politik di Sulsel maupun pada panggung politik Nasional. Salah figur yang cukup menjadi andalan Partai mercy ini, yakni sosok Ilham Arief Sirajuddin yang kemudian dipercaya untuk menahkodai Partai Demokrat. Ketua Demokrat Sulsel yang juga merupakan seorang mantan Walikota Makassar dua periode, dengan segala potensinya IAS dinobatkan sebagai salah satu kontenstan  dalam Pilgub 2013, tentunya dengan mengendarai Partai Demokrat berpasangan dengan Azis Qahhar Mudzakkar. Selain itu IAS sebagai lokomotif gerbong Demokrat Sulsel juga berhasil mendudukkan kadernya baik pada jabatan eksekutif maupun legislatif dibeberapa Kab./Kota Se-Sulsel yang notabene dikenal merupakan lumbung suara Partai Golkar.

Dengan segala talenta, kepiawaian, modal sosial, kematangan, gaya kepemimpinan, gerbong politik, kekuatan finansial, jejaring yang luas, serta pengalaman politik yang dilewatinya, dengan kata lain semua syarat beliau penuhi sebagai salah satu tokoh politik Sulsel yang sangat berpengaruh, sehingga tidak salah jika IAS kemudian disejajarkan dengan ketokohan Syahrul Yasin Limpo yang merupakan Ketua Golkar dan Gubernur Sulsel dua periode. Dengan bersandingnya dua figur yang mempunyai hubungan emosional secara personal sekaligus rival politik yang kemudian menciptakan iklim keseimbangan dalam dinamika politik ditanah celebes.

Namun dikarenakan dirinya tersandung suatu masalah hukum, dengan legowo IAS melepaskan amanah Partai untuk konsen menghadapi masalah yang dihadapinya. Pada situasi tersebut, konsekuensi yang harus dihadapi Partai besutan SBY tersebut adalah mencari sosok figur yang bisa mengendalikan roda organisasi serta mengawal agenda politik partai demi menjaga stabilitas performa partai baik secara internal maupun eksternal. Disinilah awal momentun yang cukup menarik bagi kami untuk diamati sebab tersirat banyak makna dan pelajaran yang bisa dipetik.

Rivalitas Kekaderan KB dan DI

Sepeninggalan Aco  (nama kecil Ilham Arief Sirajuddin) sebagai Ketua Partai Demokrat Sulawesi Selatan, memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada perubahan peta kekuatan politik yang berujung pada dinamika politik yang sangat dinamis. Hal tersebut juga terjadi pada dinamika internal organisasi Partai Demokrat Sulsel, terlebih pada siapakah figur yang layak dan pantas menerima tongkat estafet kepemimpinan partai. Kader-kader potensial yang dilahirkan oleh Demokrat memang cukup melimpah, namun disadari bahwa belum ada kader secakap figur IAS. Namun hal tersebut bukan menjadi alasan untuk Demokrat tinggal diam menghadapi situasi tersebut, keputusan untuk menunjuk pelaksana tugas adalah suatu hal mutlak. Dari sekian banyak kader potensial, kemudian mencuat dua nama yakni Ni’matullah yang biasa dipanggil Ketua Besar atau KB dan Syamsu Rizal MI yang populer dengan panggilan Deng Ical atau DI, yang diprediksi bisa mengawal serta memegang amanah tersebut.

Ni’matullah seorang kader Partai Demokrat yang memang dikenal sebagai aktivis serta cukup handal sebagai seorang organisatoris, bermodalkan pengalaman menjadi anggota legislatif Sulsel dua periode serta menjabat Wakil Ketua DPRD Prov. Sulsel. Sepak terjangnya didunia politik Sulsel sudah cukup untuk dijadikan pilihan sebagai pelaksana tugas Ketua Demokrat Sulsel. Selain itu, nama Syamsu Rizal MI yang populer dipanggil Deng Ical juga dijadikan pilihan menarik bagi Partai Demokrat, sebab selain menjabat Wakil Walikota Makassar juga pernah menjadi Anggota DPRD Kota Makassar. Tak beda dengan KB, DI pun dikenal aktivitis ketika semasa kuliah serta aktif dalam berbagai organisasi yang membuat sosoknya cukup mencuri perhatian masyarakat dengan karakter somberenya, apalagi dengan usia yang masih muda.

Dengan terpaut hubungan emosional sebagai senior dan yunior dikampus merah Unhas, DI kemudian lebih nyaman memikul amanah Plt. Sekretaris dengan segala potensi dan keterbatasannya, walaupun nama DI juga punya kans serta peluang yang cukup besar memegang jabatan Plt. Ketua dan Deng Ical dikenal sebagai salah satu kader yang dekat dengan Ilham Arief Sirajuddin. Ni’matullah akhirnya kemudian didaulat sebagai Plt. Ketua, kolaborasi kedua kader tersebut membuat Partai Demokrat Sulsel kembali eksis serta mampu melewati beberapa momentum politik. Duet Plt. Ketua dan Sekretaris ini kemudian mengemban tugas untuk menggelar Musyawarah Daerah agar terbentuk kepengurusan defenitif Partai Demokrat Sulsel. Seiring berjalannya waktu dinamika internalpun cukup menarik dengan berbagai macam kepentingan menjelang dihelatnya Musda oleh DPP Partai Demokrat.

Menjelang pelaksanaan Musda Demokrat Sulsel, melahirkan ragam wacana seperti calon ketua yang berasal dari kader atau non kader, wacana melanjutkan paket Ketua dan Sekretaris Ulla dan Ical serta wacana head to head plt. Ketua dan Sekretaris. Respon publik cukup beragam baik melalui pembicaraan internal kader, diskusi warung kopi hingga analisis dari pengamat politik diberbagai media. Kamipun sebagai orang yang sedikit mengenal Deng Ical, mencoba mengamati dan mendiskusikan hal tersebut baik kepada sesama teman, kolega bahkan kepada DI sendiri. Hal yang menjadi perhatian, mungkin juga kegelisahan kami adalah kesiapan infrastruktur dan suprastruktur politik Deng Ical dalam menghadapi suksesi dan juga apabila diamanahkan untuk mengemban tugas yang berat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel. Apalagi mengingat standar tinggi yang telah diterapkan oleh IAS semasa menjadi masih menjabat Ketua, yang menjadikan Demokrat sebagai kekuatan besar yang diperhitungkan. Realitas tersebut kemudian juga disadari DI yang lebih nyaman dengan melanjutkan paket dengan Ni’matullah dengan posisi Sekretaris terlebih lagi dengan tanggung jawabnya sebagai Wakil Walikota Makassar.

Dalam politik memang terkadang banyak hal yang tidak dapat diprediksi, perubahan konstalasi bisa bergerak setiap saat. Tidak lama berselang nama DI kembali menghiasi media terkait pernyataan kesiapannya berkompetisi merebut kursi 01 Demokrat Sulsel yang berhadapan dengan Plt. Ketua yang tidak lain adalah pasangan paketnya dalam mengawal Demokrat Sulsel pasca IAS tidak lagi menjabat. Kegelisahan yang dulu telah sirna kemudian timbul kembali bercampur ketegangan, walaupun kami bersama Deng Ical telah beberapakali menghadapi momentum kemenangan politik maupun kekalahan dalam politik, tapi mungkin kali ini agak berbeda entah apa yang membuatnya berbeda. Setelah mengkonfirmasi tersebut langsung kepadanya, kami mendapatkan jawaban yang cukup realitis yakni perhelatan ini kemudian bertujuan untuk menjaga serta  merawat gerbong besar yang telah dibangun oleh Ilham Arief Sirajuddin yang diperkuat oleh keinginan serta harapan DPP Partai Demokrat “memaksa” agar Deng Ical bisa membawa kemenangan Partai Demokrat Sulsel kedepan.

“Jaminan” Skenario Aklamasi

Sebagaimana layaknya sebuah organisasi yang sehat serta konsistensi organisasi dalam menjalankan amanat AD/ART, periodesasi kepengurusan merupakan suatu keniscayaan. Begitupun halnya dengan Demokrat Sulsel, Musda sebagaimana diatur dalam AD/ART hasil kongres Demokrat mewajibkan adalah reorganisasi setiap lima tahun sekali. Demokrat Sulsel dengan segala kesiapannya menggelar Musda III ditahun 2016, diwarnai dengan aroma rivalitas, tensi politik yang cukup memanas serta tarikan kepentingan internal Demokrat maupun kepentingan yang berkaitan dengan momentum politik kedepan seperti Pemilu, Pilkada Gubernur, Pilkada Kab./Kota serta event politik lain yang melibatkan tokoh politik serta partai sebagai sebuah organisasi politik.

Menyinggung kesiapan dan kepercayaan diri Deng Ical menerima tawaran bertarung dalam menghadapi Musda tersebut, terjawab ketika intensistas Deng Ical bersama tim pemenangan internal Demokrat berkomunikasi pihak DPP Partai Demokrat, yang kemudian klimaks pada pertemuan di Puri Cikeas bersama beberapa Pengurus DPP, DPD serta Beberapa Ketua DPC Kab/Kota. Hasil pertemuan yang kemudian menjadi modal serta “jaminan” keberpihakan DPP terhadap posisi Deng Ical sebagai kompetitor yang kemudian dipegang hingga berakhirnya forum Musda.

Ibarat H2C, kamipun berharap-harap cemas seperti nantinya hasil suksesi tersebut, lalu kamipun mencoba melihat-lihat berita tentang bagaimana situasi Musda yang telah dihelat didaerah lain di Indonesia. Beberapa berita yang memuat tentang Musda Demokrat seperti Mudarta terpilih Aklamasi di Musda Demokrat Bali oleh suaradewata.com, Suardi Duka terpilih aklamasi  di Demokrat Sulbar oleh antarasulsel.com, Ketua Demokat Kota Depok dipilih aklamasi oleh jabarmerdeka.com, Syahaiee Jaang aklamasi pimpin Demokrat oleh kaltim.tribunnews.com, Musda Demokrat Lampung aklamasi pilih Ridho oleh harianlampung.com, Anwar Hafid aklamasi pimpin kembali Demokrat Sulteng oleh radarmetromorowali.com dan masih banyak lagi. Kesimpulan dari hasil tracking media sederhana serta diskusi kecil kebeberapa pihak yang pernah mengamati tradisi demokrasi yang diterapkan dalam Musda Demokrat, menyimpulkan bahwa tradisi skenario Aklamasi Musda Demokat tersebut merujuk roh serta spirit hasil Kongres Demokrat IV di Surabaya dimana SBY juga terpilih menjadi Ketua Demokat secara aklamasi. Suatu analisis sederhana yang pastinya membuat kami serta pendukung Deng Ical sebagai obat penawar ketegangan memasuki arena Musda, dari luar kami mengikuti wacana serta analisis para pakar yang kemudian menambah keyakinan akan hasil akhir nantinya. Disisi lain juga wacana yang sama berlaku pada tim serta pendukung Ni’matullah dengan keyakinan serta kerja politik yang handal semakin mendramatisir bingkai dinamika yang disuguhkan oleh kedua Kader Demokrat tersebut. Maka semakin menarik  program H2C dalam benak masing-masing orang yang mengikuti Musda ini.

Four Points by Sheraton Makassar 19 Januari 2016, gong penanda dimulai Musyawarah Daerah Partai Demokrat Sulsel III. Walaupun tertutup bagi kalangan ekternal Demokrat, tapi bisa dipastikan bahwa suasana barisan pendukung masing-masing kandidat mengambil tempat baik DPC, Pengurus DPD mungkin juga pengurus DPP akan bergerombol sesuai kelompok dukungannya. Maka yang berlaku saling melirik, mengintai, menjaga jarak, tegang atas bawah, nafas memburu, senyum seadanya, butiran keringat diruang ber-AC serta hal lain seperti layaknya ketika menonton dua kelompok gangster yang siap saling terkam. Dan semakin menariknya lagi mereka adalah orang mungkin saja pernah makan sepiring bersama, pernah tinggal serumah, pernah berjuang bersama, pernah susah bersama, pernah senang bersama, pernah saling bantu dalam hal baik ataupun kurang baik mungkin ataupun yang dilakukan bersama. Tapi sekali lagi kami sadar inilah rumus baku dalam politik yakni Tak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik, yang abadi adalah ketika keberpihakan kita pada kepentingan yang sama, maka engkau adalah kawanku sebaliknya jika keberpihakan kita pada kepentingan yang beda, maka engkau adalah lawanku.

Kembali pada rivalitas dan penentuan hasil akhir pertarung ini. Detik demi detik berlalu dengan masing-masing keyakinanpun dipegang erat, hingga tiba pada kenyataan posisi keduanya imbang sehingga penentunya adalah para delegasi yang terpandang utusan SBY. Hingga posisi imbangpun bagi tim Deng Ical skenario “jaminan” pun masih berlaku yang kemudian dipertegas oleh sang pembawa jaminan. Hingga akhirnya ditengah hari itu suatu kejadian yang tak pernah sama sekali terlintas dibenak kami mungkin juga orang lain telah terjadi, jaminan pun menghampiri Ni’matullah yang memang juga mengharapkan itu, seperti halnya yang diharapkan oleh Deng Ical, keberuntungan lebih berpihak kepada yang lain. Yang tersisa dari cerita ini adalah runtuhnya tradisi Aklamasi Partai Demokrat dan kejamnya realitas demokrasi yang dipertontonkan.

Sekali lagi kami sampaikan sebagai orang sedikit tahu tentang sosok serta karakter Deng Ical, meyakini bahwa keihlasan serta kebesaran hatinya akan menerima jika memang sedari awal memang tidak menginginkan dirinya yang menduduki amanah tersebut. Sebagai manusia biasa rasa kecewa pasti akan timbul namun bukan kecewa karena tidak mencapai tujuan, tapi betapa besar resiko politik yang harus ditanggung oleh Partai Demokrat Sulsel. Menurut hemat kami sebagai orang diluar Demokrat namun dekat dengan Demokrat, setengah dari potensi kekuatan politik yang telah dirintis oleh para kader-kader Demokrat terdahulu dikorbankan untuk sebuah hasil demokrasi yang sebenarnya bisa disederhanakan. Sebuah proses yang menghasilkan kedengkian, kecurigaan, benih permusuhan, dan merusak keutuhan silaturahim orang bernaung dalam kebesaran panji Demokrat. Dan resiko paling fatal adalah bisa jadi runtuhnya kejayaan Demokrat di Sulsel, walaupun itu tidak diinginkan.

Bukan soal kalah dan menang, sebab kami mungkin lebih sering mengalami kekalahan namun dengan rasa nikmat kemenangan. Sebab tidak semua kemenangan selalu berujung pada kenikmatan, pun sebaliknya Kekalahan juga terkadang berujung pada kenikmatan. Seringkali nilai-nilai kekalahan lebih bermakna dibandingkan pada kemenangan. Kepada Kakanda Ni’matullah bersama tim yang sudah bekerja  luar biasa; Salamaki dan semoga amanah menjalankan tugas mendulang kembali kesuksesan partai Demokrat Sulsel.

Coretan ini hanya sebuah sebuah pandangan subjektifitas serta refleksi atas banyak pelajaran serta makna yang bisa kami petik dari proses ini. Salam hangat dari kami Sahabat Deng Ical.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s